Total Tayangan Halaman

Jumat, 13 Oktober 2017

Menjelang Subuh di sekitar Mesjid Agung Bandung







Menjelang Subuh di sekitar Mesjid Agung Bandung

Tauhid dan Ihsan

Tauhid dan Ihsan


Oleh: Ahmad Kholili Hasib
Inpasonline.com-Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim, ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya. Kalaupun kita tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kita.
Hadis tersebut dikisahkan oleh Sahabat Umar bin Khattab. Dia berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Saw. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya.
Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah Saw menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”(HR. Bukhari Muslim)

Syekh Abdul Wahid bin Zaid menjelaskan tentang ihsan: Jika Tuhanku mengawasiku, maka aku tidak mempedulikan selain-Nya. Ibnu Athoillah al-Sakandari menegaskan hal ini bahwa ibadah paling utama adalah jika semua aktivitas dirasa bersama dengan-Nya pada setiap waktu (Abu Hamid al-Ghazali,Ihya Ulumuddin I,hal. 421).
Dalam Islam, Allah Swt merupakan realitas tertinggi menjadi acuan setiap aktifitas kaum Muslim. Seorang Muslim dinilai kurang sempurna imannya jika dalam satu aspek dia menjadikan Allah Swt sebagai acuan, tapi dalam aspek lain menepikan Allah Swt. Apapun aktivitas, profesi dan kegiatan manusia merupakan penghambaan (ibadah) kepada Allah Swt.
Seseorang yang telah sampai pada ihsan juga selalu memelihara kehadirannya di mana saja berada bersama Allah Swt. Memelihara kehadiran ini disebut syuhud. Dalam Islam ada ibadah yang disebut ghairu mahdhoh. Aktifitas apa saja — yang tidak bertentangan dengan syariat — bisa menjadi ibadah. Maka, setiap Muslim yang melakukan aktifitasnya dengan memelihara kebersamaan bersama Allah Swt disebut ihsan.
Seorang saintis yang ihsan misalnya, dia melakukan kerja-kerja sains-nya, atau aktifitas keilmuannya dengan selalu merasa bersama Allah Swt. Ketika ia merasa bersama Allah Swt itulah dia menggunakan pandangan-pandangan keilmuannya terkait dengan-Nya. Dia melihat peristiwa alam bukan sekedar realitas yang terjadi secara ‘otomatis’. Tapi dia meyakini bahwa dalam peristiwa alam itu ada kuasa Allah Swt. Bahwa alam itu merupakan tanda (alamah) akan kewujudan agung Allah Swt.
Jadi, kepercayaan kepada dan tahu siapa Allah Swt adalah sangat penting bagi kita yang memiliki ilmu pengetahuan. Jika kita percaya bahwa Allah Swt itu wujud (ada), maka sangat mungkin kita percaya bahwa di sana ada arti dan tujuan hidup. Dan jika kita konsisten, kita akan percaya bahwa sumber nilai moral bukanlah berdasarkan kesepakatan manusia tapi merujuk kepada kehendak Allah Swt dan Allah merupakan nilai tertinggi.
Dalam mengamalkan akhlak dan adab, seorang Muslim juga harus menjadikan Allah Swt sebagai acuan, sebagai pengamalan ihsan. Termasuk dalam etika pertemanan (al-suhbah). Imam al-Ghazali menyebutnya — pertemanan yang baik — sebagai salah satu rukun agama. Dikatakannya, bahwa agama (al-din) itu sesungguhnya seperti safar (berpergian) menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan salah satu pilar ber-safar adalah berbaik hati ketika berteman (Imam al-Ghazali, al-Arba’in fi Ushul al-Din,84).
Jadi, mengamalkan ihsan berarti menjadikan tauhid sebagai tonggak tertinggi dalam melakukan iktifitas. Jika sesorang dalam hati memiliki keyakinan bahwa Allah Swt mengawasi setiap perbuatan kita dan tiap aktivitas kita ada tanggung jawabnya kepada Allah Swt, maka kita tidak akan meninggalkan Allah Swt dalam berbagai aspek. Di mana pun dan kapanpun pikiran kita harus tetap pikiran yang Islam. Di kampus, kantor, masjid, pasar dan lain-lain Islam dan nilai ketuhanan menjadi dasar penggerak aktivitas.
Maka, dalam pandangan Islam, realitas tertinggi adalah Tuhan, dan menjadi asas paling dasar dalam aktivitas berpikir. Dalam menjalani kehidupan beragama ini, seorang Muslim memiliki pandangan-pandangan terhadap konsep kehidupan, manusia, akhlak, ilmu alam dan lain sebagainya. Jika konsep-konsep yang berpusat dengan konsep Allah ini berfungsi menjadi alat utama memandang sesuatu, maka seorang Muslim memandang realitas ini dalam kesatuan konsep yang berpusat kepada Tauhid.
Maka, apapun keahlian ilmu seorang Muslim; fisikawan, ahli kedokteran, insinyur, ahli ekonomi, teolog, ahli falsafah, faqih, dan lain-lain, jika menggunakan tauhid sebagai  standarnya, maka ilmu yang terpancar dari akal fikirnya menjadi kekhasan tersendiri sebagai seorang ilmuan Muslim yang hakiki.

Senin, 18 Januari 2010

Kuliah Tauhid 8

HAL-HAL YANG MENGURANGI ATAU MERUSAK SIKAP TAUHID

Karena sikap tauhid ini merupakan sikap mental (hati), hati yang kurang stabil akan menyebabkan sikap ini: mudah berubah-ubah. Oleh karena itu do’a yang dianjurkan agar selalu dibaca ialah: “Wahai Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu, dan atas ta’at akan Dikau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku ini termasuk orang yang menzhalimi diriku.”

1.         Penyakit Ria

Sangatlah perlu kita sadari beberapa kelemahan yang ada dalam diri kita sendiri. Dengan mengetahui serta menyadari adanya kelemahan dalam diri kita ini semoga kita dapat lebih mudah mengatasi dan mengontrolnya. Kelemahan-kelemahan ini pun disinyalir oleh Allah sendiri dalam al-Qur’an sebagai peringatan bagi manusia. Contohnya:

Sabtu, 09 Januari 2010

Kuliah Tauhid 7

CONTOH-CONTOH PRIBADI TAUHID DALAM SEJARAH ISLAM

Agama Islam sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW telah disebarkan ke seluruh pelosok dunia yang sudah mempunyai kebudayaan yang tinggi ketika itu, terutama jika dibandingkan dengan kebudayaan bangsa Arab Quraisy sendiri. Oleh karena itu, banyak di antara bangsa-bangsa ini, yang biasa menganggap enteng terhadap bangsa gurun pasir ini, tertegun dan tidak percaya atas kenyataan, bahwa bangsa, yang selalu dianggap mereka primitif ini, kok tiba-tiba berani menantang mereka.

Rabu, 06 Januari 2010

Kuliah Tauhid 6

Muhammad Rasul Allah

Dengan kupasan yang berdasarkan logika semata kita hanya mampu sampai kepada pengetahuan, bahwa yang pantas kita ilahkan hanyalah Allah, Yang punya sifat-sifat Mutlak, Unique (Maha Tunggal), dan Distinct (Beda dengan Semua - Muchalafatuhu lil hawadithi). Sifat-sifat ini penting, namun tidak akan memenuhi kebutuhan manusia yang lebih asasi. Manusia sebagai makhluq yang juga punya rasa di samping aqal menghendaki pula pemuasan fakultas rasa ini. Ketiga sifat Allah tersebut hanya memenuhi kepuasan aqal, mereka belum menyentuh hasrat rasa. Hasrat utama setiap manusia yang ingin hidup normal dan sehat bathiniah tidak terpenuhi hanya dengan mengetahui adanya Allah Yang Maha Mutlak, Maha Tunggal, dan Maha Berbeda dengan semua.
Demi memenuhi kebutuhan asasi manusia inilah, maka Allah dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya telah mengutus para Nabi dan Rasul untuk berdialog dengan manusia dan menerangkan sifat-sifat-Nya yang lain yang dibutuhkan manusia demi memuaskan hasrat aqal dan rasa secara seimbang. Salah satu ayat disampaikan Allah kepada manusia dalam rangka memperkenalkan Diri-Nya kepada manusia ialah: “Sesungguhnya ilah kamu Ilah Yang Satu, tiada ilah lain selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (Q. 2:163).
Dengan ayat ini Allah telah memperkenalkan Diri kepada manusia sebagai Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Sifat yang dua inilah yang sangat didambakan oleh manusia dalam hidupnya. Tidak ada manusia yang betah hidup di dunia ini tanpa mendapat dan merasakan kasih sayang yang murni, tanpa pamrih. Sebelum manusia mencapai umur ‘aqil baligh, ia telah mendapat kasih sayang yang murni itu dari ibu dan bapaknya. Sebelum ia pandai membedakan mana yang baik dan buruk seyogianyalah manusia diperkenalkan kepada Allah Al Rahman Al Rahim melalui pendidikan yang penuh kasih sayang orangtuanya. Setiap hari sejak kecilnya ia telah dididik mengulang-ulang kedua sifat ini minimum tiga puluh empat kali (tujuh belas raka’at kali dua dalam setiap membaca al Fatihah) demi meyakinkan dirinya akan kasih sayang Allah ini.
Untuk dapat menerima ayat tersebut sebagai firman Allah, maka manusia haruslah mempercayai kerasulan Muhammad SAW sebagai pembawa firman Allah ini. Keyakinan yang bulat akan integritas Muhammad merupakan syarat mutlak untuk menerima al-Qur’an sebagai firman Allah. Oleh karena itu sesudah meyakini kalimat “Laa ilaha illa Allah” seorang Muslim harus pula meyakini “Muhammad Rasul Allah” sebagai commitment kedua.

Senin, 28 Desember 2009

Kuliah Tauhid 5

SYIRIK dan MUSYRIK

Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia di dunia ini bertuhan lebih dari satu. Al-Qur’an menamakan mereka ini musyrik, yaitu orang yang syirik. Kata syirik ini berasal dari kata “syaraka” yang berarti “mencampurkan dua atau lebih benda/hal yang tidak sama menjadi seolah-olah sama”, misalnya mencampurkan beras kelas dua ke dalam beras kelas satu. Campuran itu dinamakan beras isyrak. Orang yang mencampurkannya disebut musyrik.
Lawan “syaraka” ialah “khalasha” artinya memurnikan. Beras kelas satu yang masih murni, tidak bercampur sebutir pun dengan beras jenis lain disebut beras yang “Khalish”. Jadi orang yang ikhlash bertuhankan hanya Allah ialah orang yang benar-benar bertawhid. Inilah konsep yang paling sentral di dalam ajaran Islam.
Mentauhidkan Allah ini tidaklah semudah percaya akan wujudnya Allah. Mentauhidkan Allah dengan ikhlash menghendaki suatu perjuangan yang sangat berat. Mentauhidkan Allah adalah suatu jihad yang terbesar di dalam hidup ini.

Jumat, 25 Desember 2009

Kuliah Tauhid 4

Definisi Tuhan


Demi untuk memudahkan kajian, sebaiknya kita mulai dengan memberikan definisi tuhan, supaya pengertian kita sama. Tentu definisi yang paling tepat ialah yang diambil dari pemahaman akan pengertian tuhan menurut yang dijabarkan di dalam al-Qur’an. Untuk itu, perlu kita sadari dua kenyataan terpenting, yang pasti akan kita peroleh apabila kita kaji dengan sungguh-sungguh kandungan al-Qur’an.

Kenyataan pertama ialah, di dalam al-Qur’an kita tidak pernah menemukan suatu ayat pun yang membicarakan atheist atau atheisme. Suatu hal yang kiranya sangat penting kita fikirkan mengingat kenyataan di zaman modern ini jutaan manusia telah menyatakan diri mereka sebagai “atheist” atau “orang yang tidak bertuhan”. Setiap orang yang berideologi komunis mengaku, bahwa mereka tidak bertuhan (atheist). Mendiang Chou Eng Lai, perdana menteri RRC, pernah berpidato di alun-alun Bandung, ketika ia berkunjung ke sana semasa konperensi Asia-Afrika dahulu (1955) dengan bangga mengatakan, bahwa mereka sebagai komunis dengan sendirinya tidak bertuhan. Kalau kita jumlahkan rakyat RRC dengan Rusia ditambah dengan semua negara satelit-satelitnya yang menganut faham komunis, maka kira-kira sepertiga penduduk dunia sekarang ini adalah atheist, jika yang dikatakan bekas perdana menteri Cina itu benar.

Kamis, 17 Desember 2009

Kuliah Tauhid 3

Peranan Akal dan Rasa

Rasa takut maupun rasa hormat dan kagum serta rasa ketergantungan yang berlebih-lebihan ini akan mudah dikontrol, bahkan bisa dicegah, jika manusia mau dan mampu memanfa’atkan dua fasilitas lain yang hanya dikaruniakan oleh Allah sebagai ni’mat-Nya yang tertinggi kepada manusia. Oleh karena itu kedua fasilitas ini sangatlah penting artinya bagi manusia. Keduanya dikaruniakan Allah kepada manusia dengan percuma, justru sebagai penunjang karunia-Nya yang berupa kemerdekaan tadi.

Kedua fasililas ini ialah ‘akal dan rasa. Dengan ‘akal ini manusia bisa menimbang, menganalisa, memahami, dan akhirnya membuat atau menentukan pilihan yang paling baik untuknya. Sedangkan dengan fasilitas rasa, manusia akan mampu meresapkan dan/atau menciptakan keindahan, menghayati dan/atau menggubah kesenian. Dengan mengembangkan ni’mat rasa, manusia akhirnya bisa menjadi pencinta kebenaran, keindahan atau kesucian, dan keadilan; bukan sekedar menjadi penuntut kebenaran (hak) dan ke’adilan.

Senin, 14 Desember 2009

Kuliah Tauhid 2

TAUHID dan KEMERDEKAAN

Mentauhidkan Allah adalah ajaran pokok yang disampaikan oleh setiap Nabi dan Rasul, yang diutus oleh Allah sejak awal sejarah kemanusiaan. Namun sejarah kemanusiaan penuh dengan kegagalan-kegagalan manusia dalam menghayati ajaran tauhid ini, sehingga setiap kali ajaran yang murni dan exact ini perlu diperbaharui atau dikoreksi oleh Rasul-rasul berikutnya sesudah mengalami beberapa distorsi yang membahayakan nilai-nilai kemanusiaan.

Nilai kemanusiaan yang paling utama ialah kemerdekaan. Kemerdekaanlah satu-satunya nilai yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Tanpa kemerdekaan manusia sebenarnya tidak mungkin menjalani hidupnya sebagai manusia. Dengan perkataan lain, tanpa kemerdekaan pada hakikatnya manusia berhenti jadi manusia atau tidak lagi berfungsi sebagai manusia. Oleh karena itu, harga diri setiap manusia justru diukur dengan derajat kemerdekaan yang bisa dihayati dan dipertahankan manusia itu.

Secara individu setiap manusia dilahirkan merdeka. Namun dalam mempertahankan hidupnya manusia pada tingkat awal dari kehidupannya itu terpaksa tergantung kepada manusia lain, yaitu ibunya. Akan tetapi, setiap ibu telah dianugerahi Allah SWT suatu rasa kasih sayang kepada anak yang dilahirkannya sedemikian sempurnanya, sehingga setingkat hanya di bawah sifat Rahman (kasih sayang) daripada Allah sendiri.

Minggu, 06 Desember 2009

Kuliah Tauhid 1

Mulai minggu ini insya Allah saya akan mengupload sebuah buku kecil berjudul "Kuliah Tauhid" bagian per bagian. Buku kecil ini merupakan kumpulan kuliah ba'da subuh di masjid Salman ITB dari almarhum Muhammad Imaduddin Abdulrahim, seorang Cendikiawan Muslim yang mencoba memaparkan pengertian Tauhid yang menjadi Inti ajaran Islam yang Universal. Buku kecil ini saya anggap penting untuk dikaji sebagai salah satu landasan agar kita tidak kehilangan arah dan tujuan dalam menjalani kehidupan kelak.  (Beberapa bagian saya edit dengan maksud penyesuaian)

Bagian Pertama

Kepercayaan kepada Tuhan dan Mentauhidkan Tuhan


Sekadar percaya akan wujudnya Tuhan belumlah cukup untuk menjadikan seseorang Islam, karena kepercayaan akan wujudnya Tuhan bukan merupakan suatu prestasi. Lagi pula, kepercayaan ini sudah ada dengan sendirinya tertanam di dalam hati sanubari setiap manusia sejak lahir. Walaupun, kadang-kadang kepercayaan ini seolah-olah tertutupi dan tidak ternyatakan, namun dalam keadaan tertentu ia muncul dengan tiba-tiba. Misalnya, di dalam keadaan gembira ria orang sering melupakan Tuhan, bahkan sebagian orang dengan sombong berani mengatakan: “tidak ada Tuhan”, namun dalam keadaan yang kritis, ketika sedang diancam bahaya maut, atau sedang berlayar di tengah lautan yang dilanda badai dan topan orang ini dengan khusyu’nya lantas berdo’a memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Watak manusia seperti ini pun digambarkan di dalam Al-Quran di dalam beberapa surat. Misalnya: Dialah Yang memungkinkan kamu berjalan di darat dan berlayar di laut, sampai ketika kamu berada di kapal. Ketika kapal ini meluncur dengan angin baik mereka bergembira karenanya. Tiba-tiba mereka dipukul angin topan dengan gelombang yang datang dari segala penjuru sehingga mereka merasa seperti terkepung, maka merekapun berdo’a kepada Allah dengan janji ikhlash akan ta’at semata kepada-Nya: ‘Jika Kau selamatkan kami tentulah kami akan bersyukur’. Tetapi setelah Ia menyelamatkan mereka, mereka bertindak melanggar yang hak di bumi. Wahai manusia! Keingkaranmu akan kebenaran itu hanya merugikan dirimu sendiri. Kegembiraan di dunia ini hanyalah sementara, kemudian kamu akan kembali kepada Kami, maka akan Kami beritahukan pada kamu apa-apa yang telah kamu lakukan itu.” (Q. 10:22-23).

Kamis, 19 November 2009

HAKIKAT PENDIDIKAN DALAM ISLAM


Syamsi Ali
Ummat Islam saat ini nampaknya membuktikan prediksi Rasulnya lima belas abad yang lalu. Dalam haditsnya Rasulullah menjelaskan:
"Suatu saat kamu akan menjadi seperti buih di tengah samudra luas. Terombang-ombang oleh ombak serta mengikut ke arah mana jalannya angin. Para sahabat bertanya: Apakah karena kami sedikit ketika itu wahai Rasulullah? Tidak, namun kamu ditimpa penyakit "wahan". Para sahabat bertanya: Apakah penyakit wahan itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Hubbu ad Dunya wa karaahiyat al Maut (Cinta dunia dan benci mati)" (hadits). Cinta dunia yang berlebihan, sebagai konsekwensi logis dari tertanamnya faham materialisme dalam diri kita melahirkan sikap-sikap yang seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lagi (abadi). Lihat QS: Al Humazah: 2-3. Sikap yang demikian pula yang menyebabkan kita menyikapi pendidikan anak-anak kita seolah-olah tak ada aspek lain dalam hidupnya kecuali memburu dunia dengan segala manifestasinya. Sehingga kita bersikap buta hati terhadap kisah Ibrahim dan Ya''quub untuk menghayati bagaimana mereka telah mendidik anak keturunan mereka. Al Qur''an mengisahkan, Ibrahim dan Ya''qub senantiasa mewasiatkan anak-anaknya tentang agama ini. "Sungguh Allah telah memilih bagimu agama ini, maka janganlah sekali-kali kamu mati kecuali telah berislam secara benar" (QS: Al Baqarah: 132). Bahkan Ya''qub AS disaat-saat menjelang maut menjemputnya, menyempatkan diri bertanya kepada anak-anaknya: "madzaa ta''buduuna min ba''di" (Apa gerangan yang akan kamu sembah setelah kematianku)? Lihat QS: Al Baqarah:133. Gambaran Ibrahim dan Ya''qub AS di atas mengajarkan betapa besar perhatian mereka terhadap kelestarian kesadaran beragama bagi anak-anak mereka. Sebaliknya, ummat Muslim saat ini seolah-olah telah mengganti ayat "maadza ta''buduuna" (apa yang kamu sembah) dengan kata-kata "maadza ta''kuluuna" (apa yang akan kamu makan setelah aku meninggal). Kepedulian terhadap kelangsungan kesadaran beragama anak-anak kita sangat minim sekali. Sehingga sebagai ilustrasi, seringkali jika anak kembali dari sekolah yang ditanyakan adalah nilai berapa yang kamu dapatkan? Sementara shalatnya tidak terpedulikan sama sekali. Perhatikan kebanggaan seorang orang tua bila anaknya meraih suatu predikat kesarjanaan (Dr, MBA, dst). Namun alangkah sedikitnya yang menyadari kiranya predikat-predikat tersebut dapat menjadi jembatan kebahagiaan anaknya dunia-Akhirat, serta menjaganya dari jilatan api neraka. Kesadaran kita terhadap doa sapu jagad kita (memohon kebajikan dunia-Akhirat) masih berada di sekitar lingkaran lisan kita. Sementara dalam fakta sikap kita menunjukkan bahwa kita menghendaki dunia semata.

Rabu, 14 Oktober 2009

Mencari Tujuan

Sesungguhnya kehidupan yang dijalani manusia di dunia ini adalah suatu 'pencarian'. Pencarian untuk menemukan suatu makna dalam kehidupannya (termasuk manusia yang seakan-akan apatis dalam menjalaninya). Sesuatu yang sangat berarti, sesuatu yang sangat menyentuh, sesuatu yang sangat mempengaruhi, sesuatu yang sangat berkesan, yang dapat mengarahkan dan menggerakkan untuk dapat menjalani dan meraih bahkan kadang tanpa kita menyadarinya.
Sebagian manusia mencari kebenaran dengan berbagai paradigmanya, ada yang mencari kebahagiaan, sebagian mencari keindahan, ada yang mencari kedudukan, sebagian mencari kesenangan, ada yang mencari ketenangan, sebagian mencari kepuasan...Akan banyak sekali pencarian dengan berbagai versinya sesuai dengan apa yang terlintas dalam benaknya.
Pencarian ini walaupun samar, akan meminta pemenuhan dengan berbagai bentuknya. Semakin banyak pencarian akan semakin banyak jalan yang ditempuh, menjadi tidak jelas pemenuhannya dan energi semakin banyak terkuras (bagaikan seseorang yang mengayuh sampan tanpa jelas arah tujuan yang harus dia tempuh). Bahkan akhirnya tidak ada makna apapun yang dapat kita terima dalam menjalaninya.